BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Monyet Ekor Panjang adalah salah satu satwa liar yang ada di Indonesia. Monyet ekor panjang memiliki termasuk satwa liar yang statusnya diatur berdasarkan undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya, dan PP No. 7 Tahun 1999 Macaca fascicularis merupakan jenis satwa yang tidak dilindungi, serta masuk kategori satwa dalam Apendiks II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam.
Semakin banyak permintaan dalam perdagangan akan jenis ini maka akan perlu adanya upaya peningkatan populasi untuk menjaga keberadaanya. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini dengan adanya upaya konservasi baik secara insitu maupn ex-situ seperti adanya penangkaran yaitu suatu kegiatan yang berkaitan dengan budidaya, pengelolaan yang meliputi pengumpulan bibit, perkembangbiakan, pemeliharaan, perbesaran dan restocking yang dilakukan di habitat aslinya atau di luar habitat asli. Kontrol dalam konservasi in-situ memerlukan usaha yang lebih keras, karena satwa yang ditangkar tidak dapat termonitoring secara langsung dan habitat yang digunakan sebagai habitatnya pun luas. Sehingga untuk memudahkan pengontrolan dan menejemen kelestarian konservasi dilakukan dengan cara ex-situ, yaitu konservasi satwa diluar habiat aslinya.
Konservasi eksitu merupakan langkah terakhir ketika langkah in-situ tidak dapat lagi menunjang pelestarian satwa yang ditangkarakan karena mungkin faktor-faktor penghambat telah terjadi seperti kerusakan habitat alami atau degradasi yang mengakibatkan penurunan populasi monyet satwa, khususnya monyet ekor panjang di habitat aslinya. Sehingga perrlu dilakukan langkah alternatif agar satwa dapat diupayakan dapat kembali lestari yaitu dengan konservasi ex-situ. Dengan cara pembuatan penangkaran di luar habitat aslinya dengan perlakuan-perlakuan intensif dan menejemen khusus demi tercapainya kelestarian satwa yang ditangkarkan.
1.2. Tujuan
Pembuatan makalah ini memiliki tujuan untuk mempelajari pengelolaan pakan dan habitat Monyet Ekor Panjang di penangkaran ex-situ. Serta membandingkan pengelolaan di tiga tempat berbeda melalui studi literatur.
BAB II
METODE
Metode yang digunakan dalam penyususnan makalah ini adalah studi literatur dn pustaka yang berkaitan dengan pengelolaan pakan dan habitat monyet ekor panjang di penangkaran eksitu.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Bioekologi Monyet Ekor Panjang
Taksonomi
Monyet adalah istilah untuk semua anggota primata yang bukan prosima ("pra-kera", seperti Lemur dan Tarsius) atau Kera, baik yang tinggal di Dunia Lama maupun Dunia Baru. Hingga saat ini dikenal 264 jenis monyet yang hidup di dunia. Tidak seperti kera, monyet biasanya berekor dan berukuran lebih kecil. Monyet diketahui dapat belajar dan menggunakan alat untuk membantunya dalam mendapatkan makanan. Menurut Napier (1967) dalam Santosa (1996) taksonomi monyet ekor apnjang adalah sebagai berikut:
Order : Primates Linnaeus, 1958
Suborder : Anthropoidea Mivart, 1864
Superfamili : Cercopithecoidea Simpson, 1931
Subfamili : Cercophithecinae Blanford, 1888
Genus : Macaca Lacepede, 1799
Spesies : Macaca fascicularis Raffles, 1821
Habitat
Menurut Chrockell dan Wilson (1977) dalam Santosa (1996) monyet ekor panjang banyak dijumpai di habitat-habitat yang terganggu khususnya daerah riparian (tepi sungai, tepi danau, atau sepanjang pantai) dan hutan sekunder areal perladangan. Selain itu terdapat pula di rawa mangrove. Monyet ekor panjang adalah salah satu jenis yang dapat berdaptasi dengan keadaan lingkungan dan iklim yang berbeda.
Jenis Pakan
Menurut Romauli (1993) dalam santosa (1996) monyet ekot panjang merupakan satwa frugivorus atau pemakan buah. Jenis pakan lain berupa serangga, bunga rumput, jamur tanaha, molusca, crustacean, akar, biji dan telur burung. Sedangkan menurut Chivers (1974) dalam Santosa (1996) Ficus spp. Merupakan makanan paling penting bagi kera dan monyet di alam. Hal ini karena ficus spp. Terdapat dihutan dan dapat berdaun muda sepanjang tahun serta berbuah 2-3 kali setahun.
Nilai Manfaat
Setiap fauna memiliki peran dan nilai manfaat dialam. Menurut penelitian yang dilakukan Fauzi (2006) nilai yang dapat dimanfaatkan jenis satwa monyet ekor panjang antara lain
Nilai Ekologi Monyet Ekor Panjang
• Polinator (penyebar biji-bijian alami ke hutan)
• Pengendali populasi serangga
Nilai Ekonomi Monyet Ekor Panjang
• Ekoturisme (Rekreasi); wisata pemandian Wendit di Malang, wisata Pura Sangeh di Bali,dll.
• Penangkaran. Misalnya CV Labsindo di Tanggerang, CV Inquatek di Cengkareng, IPB (Institut Pertanian Bogor), dll
• “Menurut Prof Dr Dondin Sayuthi, salah satu pelopor penangkaran satwa primata, 3 monyet cukup untuk membiayai 2 orang mengambil S2 di Amerika”(http://www.unisosdem.org/article_detail.phpaid=3585&coid=2&caid=42&gid=1)
Nilai Intrinsik
• Hewan percobaan, riset biomedis. Seperti produksi vaksin volio, HIV-AIDS, kardiovaskuler, dll.
Nilai Multidimensional
• Bioindikator Lingkungan
• Zoonosis
• Satwa Liar, undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya
• PP No. 7 Tahun 1999 Macaca fascicularis merupakan jenis satwa yang tidak dilindungi
3.2. Perbandingan Studi Pakan dan Habitat Monyet Ekor Panjang di Beberapa Lokasi Eksitu
Pusat Penyelamatan Satwa Liar Cikananga (PPSC)
Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga dibangun di atas tanah seluas 14 ha yang berlokasi di Kampung Cikananga, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Lokasi penyelamatan satwa liar itu terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Lokasi penyelamatan dan penangkaran satwa berada di kaki Gunung Halimun. Sekitar 1.200 satwa dirawat dan dilatih untuk dapat kembali lagi ke habitatnya semula.
Kondisi fisik di PPS Cikananga cukup sejuk dengan temperatur kurang dari 22o C. kelembabannya cukup tinggi dengan kondisi iklim yang yang teratur. Curah hujan tinggi mengingat PPS Cikananga terletak di Gunung Halimun. Toprografi di PPSC bergelombang dengan tanah yang senantiasa lembab.
Vegetasi di PPSC cukup rapat dengan jenis dominan berupa kayu afrika yang merupakan tanaman khas di daerah tersebut. Selain itu terdapat pula bambu, tanaman buah-buahan, semak belukar, rumput-rumputan dan jenis tanaman lain yang menambah kesejukan di tempat itu. Dengan kondisi vegetasi yang mendukung, pencarian pakan tidak perlu dikhawatirkan.
Secara umum permasalahan baik dari segi ekologi, ekonomi, serta sosial tidak ada hambatan yang berarti. Akan tetapi populasi satwaliar yang ada di PPSC yang mencapai 2000 ekor adalah suatu permasalahan yang besar, yaitu antara lain dimana lokasi yang menjadi tempat habitat satwa tersebut ketika dipindahkan, banyak satwa yang mati karena kurang mampu untuk beradaptasi, kekurangan sumberdaya manusia yang menjadi relawan ketika sedang melakukan sitaan atau translokasi dan sebagainya. Kekurangan tenaga ahli dibidangnya, contohnya adalah ahli terhadap pakan spesies tertentu, ahli habitat, dan sebagainya.
Salah satu satwa yang ada di cikananga adalah Monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang yang ada di PPSC berjumlah kurang lebih 50 ekor dengan struktur umur yang bervariasi mulai dari anak-anak sampai dewasa. Monyet ekor panjang terdapat pada 6 kandang yang masing-masing kandang berukuran 3 m x 2 m x 2 m. Pakan berupa markisa, pisang dan jenis-jenis buah lainnya yang disebar langsung di dalam kandang sebanyak dua kali sehari. Pembersihan kandang juga dilakukan dua kali sehari. (www.cikananga.org)
Taman Margasatwa Ragunan
Luas keseluruhan Kebun Binatang Ragunan saat ini adalah 135 ha. Tata guna lahan KBR ( Kebun Binatang Ragunan) meliputi lahan yang telah terbangun 52 %, kantor dan kandang 32 ha, taman 15 ha, danau 7 ha, lapangan parkir 5 ha dan saluran air 10 ha.
Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidth dan ferguson (1951), daerah Pasar Minggu termasuk dalam tipe iklim B dengan nilai Q 26,7. Kebun Binatang Ragunan merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 50 mdpl dan memiliki kemiringan 20-60. sedangkan suhu harian di kebun binatang Ragunan berkisar antara 25,5 0– 28,50dan kelembaban udara sebesar 85 % serta curah hujan 2291 mm per tahun.
Jenis tanah di Kebun Binatang Ragunan Jakarta termasuk jenis tanah latosol merah. Tanah jenis ini memiliki sifat sebagai berikut: pH masam pada seluruh profil, kandungan bahan organik dan kadar nitrogen lapisan atas sedang yang semakin rendah pada lapisan yang semakin bawah, kadar pospat di seluruh profil rendah dan kadar kalsium di semua lapisan sangat rendah.
Taman Margasatwa Ragunan Jakarta memiliki flora yang merupakan jenis yang ada sebelumnya seperti hutan wisata yang bersifat alami, jenis-jenis vegetasi yang terdapat di Kebun binatang Ragunan adalah : Pohon Buah-buahan, Peneduh, Obat-obatan dan jenis Rumput yang masing-masing terdiri atas 2 Ordo, 56 Famili, 968 Spesies dengan jumlah spesies keseluruhan 47.499 pohon (Kamelia. 2004).
Vegetasi di kebun Binatang Ragunan Jakarta merupakan vegetasi tanaman yang dapat digolongkan sebagai berikut:
i. Pohon berbunga yang didominasi oleh pohon Tenguli (Cassia fistula) dan flamboyan (Delonix regia).
ii. Tanaman peneduh yang didominasi oleh kormis (Acacia auriculiformis) dan jeunjing (Albizzia falcata).
iii. Tanaman buah-buahan yang didominasi oleh jambu monyet (Anacardium occidentale) dan rambutan (Nepheleum lapaceum).
iv. Tanaman obat-obatan dan industri yang didominasi oleh salopat serat (Xylopia glauca) dan kemenyan (Styrax benzoe).
v. Tanaman hias yang dibuat dengan bentuk taman yang terdapat di hampir seluruh sudut kebun binatang.
Penangkaran Ds.Mekarsari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Penangkaran terletak di desa Mekarsari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Luas Area Penangkaran 30.000 m 3. Kandang terletak diareal terbuka dengan diselingi tanaman angsana (Pterocarpus indicus) diantara kandang-kandang. Pemberian pakan sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pada pukul 09.00 WIB dan pukul 14.00 WIB. Pakan yang diberikan yaitu pakan olahan/pellet dari Amerika Serikat, Thailand dan lokal yang kandungan gizinya berbeda-beda. Biasanya monyet jantan mengambil makanan lebih awal. Memilihnya dengan terkadang menghamburkannya ke lantai dan juga sering mengambil makanan lebih dari satu butir dengan cara dipegang dan disimpan dalam mulutnya. Aktivitas makan monyet dilakukan dengan posisi duduk, dan terkadang dengan posisi berdiri/berjalan. Individu monyet mengambil makanan sesaat setelah pakan/ransum diletakkan dalam kotak makanan.
Selain pellet, individu-individu monyet juga makan pakan yang dapat dijangkau dari dalam kandang penangkaran seperti rumput dan serangga. Sesekali diberi buah (untuk memenuhi gizi) seperti apel, pisang, jeruk dan ubi jalar. Tingkat konsumsi monyet dewasa untuk pellet yang berasal dari AS dan Thailand kurang lebih 111 sampai 134 gr/ekor/hari, sedangkan untuk pellet lokal tingkat konsumsi monyet dewasa jantan sekitar 42 sampai 88 gr/ekor/hari. Konsumsi pakan monyet yang masih dalam tahap anakan adalah susu induk saja. Selain pakan, hal yang penting lainnya adalah penyediaan minum. Minum diberikan kepada monyet dengan cara menyediakan air dari dalam botol plastik melalui selang yang terbuat dari logam. Tempat minum diletakkan pada suatu tempat yang berdekatan dengan tempat makan. Air yang digunakan untuk minum monyet-monyet adalah air bersih yang ditambahkan dengan vitamin dan mineral. Frekuensi pemberian minum sama seperti pemberian pakan yaitu dua kali sehari. Terkadang monyet juga minum air hujan yang tergenang dalam kandang dengan cara menjilat-menjilatnya (Hadinoto, 1993)
Perbandingan Konservasi Insitu dan Ex-situ
Dalam hal menejemen penangkaran, konservasi in-situ lebih memanfaatkan habitat asli satwa sebagai sumber pakan dengan membiarkan satwa hidup bebas dengan sedikit kontrol dari pihak pengelola. Sedangkan penangkaran eksitu mulai melibatkan kontrol pengelola yang jauh lebih intensif dalam upaya pelestarian satwa yang ditangkarkan. Menejemen kesehatan, pakan, minum dan perkandangan di kelola untuk memenuhi tingkat kesejahteraan satwa tersebut. Pakan yang diberikan di penangkaran ex-situ biasanya jauh lebih berkualitas daripada di kawasan insitu karena di penangkaran eksitu pakan yang diberikan memiliki kandungan gizi yang diatur dan dimanipulasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan satwa. Sedangkan di kawasan in-situ, satwa berusaha sendiri mencari makanan dari sumberdaya yang terdapat disekitarnya baik itu daun-daunan, buah atau bunga dari pohon yang tumbuh di habitatnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari ketiga kawasan in-situ yang tersebut diatas diketahui bahwa pengelolaan penangkaran eksitu khususnya dalam hal pakan, pengelola senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan gizi yang cukup melalui pakan yang diberikan. Secara umum pakan yang diberikan berupa buah-buahan yang memilik tingkat kesukaan yang tinggi dan memiliki kandungan gizi baik dan adapun pada penangkaran di Desa Mekarsari lebih pada pakan yang sifatnya instan yang kandungan gizinya lebih tinggi dan praktis dalam penyajiannya. Pada Pusat Penyelamatan Satwaliar Cikananga dan Suaka Margasatwa Ragunan pakan yang diberikan pada monyet ekor panjang adalah pakan yang bersifat alami seperti buah-buahan atau daun-daunan yang berasal dari vegetasi yang tumbuh disektar kandang, sedangkan di penangkaran Desa Mekarsari, pakan yang diberikan berupa pakan/ransum awetan yang sifatnya instan yaitu pellet yang kandungan gizinya terukur dalam takaran tertentu.
Menejmen kawasan penangkaran, pakan dan hal lain yang menyangkut kesjahteraan satwa khusunya monyet ekor panjang di kawasan ex-situ tergantung pada ketersediaan modal, banyaknya populasi monyet yang ada di penangkaran, kemampuan adaptasi, sumberdaya manusia dan tenaga ahli yang berperan dalam pelestarian di kawasan penangkaran ex-situ tersebut. Sehingga tidak semua penangkaran ex-situ dapat memenuhi semua kriteria yang termasuk dalam kesejahteraan satwa secara optimal dan ideal. Namun kelemahan penangkaran eksitu adalah satwa terbiasa makan dari apa yang sudah disediakan oleh pihak pengelola sehingga ada rasa malas dari satwa untuk mencari pakan sendiri.
:)